
SITUS BUDAYA
Istana Alwatzikhoebillah
Alwatzikhoebillah: The Golden Heart of Sambas Heritage
Tentang Tempat Ini
Istana Alwatzikhoebillah adalah mahakarya sejarah Kesultanan Sambas yang memadukan kisah kepemimpinan, spiritualitas, dan budaya Melayu klasik. Di kompleks inilah jejak para sultan, panglima, hingga perjanjian damai dan diplomasi kerajaan diwariskan lewat bangunan, gerbang, pusaka, lambang, serta ruang-ruang yang masih berdiri kokoh hingga kini. Sejarah Istana ini dibangun oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (1931β1935) dengan biaya pribadi sebesar 20.000 Gulden, hasil pinjaman dari Sultan Kutai Kertanegara. Pada masa beliau, istana bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat upacara adat, diplomasi, budaya, dan penyimpanan pusaka kerajaan. Bangunan & Arsitektur Kompleks istana terdiri dari tiga bagian utama: 1. Pintu Gerbang Utama β Bangunan Segi Delapan
Gerbang masuk pertama yang menghadap barat, direhabilitasi pada 1936. Ruang atasnya unik karena dibangun tanpa tangga dan dipercaya dijaga oleh makhluk dari dimensi lain. 2. Inner Gate (Gerbang Dalam)
Dibangun tahun 1935 sebagai lapis kedua menuju istana. Ruang atas digunakan Sultan untuk menyaksikan pertunjukan budaya di alun-alun. Ruang bawah menjadi tempat pasukan Perawis (pengawal kerajaan). 3. Istana Utama
Terdiri dari: Balairung Sri β ruang resmi Sultan menerima tamu. Lima kamar β untuk Sultan, keluarga, serta ruang makan. Paviliun kiri β kantor Sultan dan kamar tamu kerajaan. Paviliun kanan β ruang penyimpanan pusaka kerajaan. Arsitektur istana memadukan kayu lokal Kalimantan dan detail khas Melayu, mencerminkan estetika elegan namun tetap fungsional.
Simbol perdamaian juga hadir melalui Pohon Kayu Putih yang ditanam tahun 1883 oleh Panglima Daud dan Panglima Bahran atas perintah Sultan Muhammad Tsafiuddin II. Dua batang pohon ini menandai berakhirnya konflik antara Dayak Sungkung dan Dayak Bekatik serta menjadi saksi persatuan etnis di wilayah Sambas. Tiang Bendera & Meriam Inggris Tiang bendera berbentuk tiang perahu layar dibuat tahun 1935 dari kayu Resak Padi yang diambil dari Gunung Senujuh. Bentuknya mengisyaratkan kejayaan armada laut Sambas di masa Pangeran Anom (Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I, 1815β1828). Empat penopang yang disebut Citre melambangkan empat jabatan penting kerajaan: Pangeran Laksamana, Cakra Negara, Paku Negara, dan Amar Diraja, para penopang kekuasaan Sultan bersama dua Wazir.
Di dasar tiang terdapat delapan meriam peninggalan tentara Inggris, simbol masa peperangan dan ketangguhan Kesultanan Sambas. Lambang Kerajaan Lambang Kesultanan Sambas pada masa Sultan Muhammad Mulia Ibrahim (1931β1943) penuh makna: Tangan kanan β kekuasaan Sultan. Padi berdaun 9 & kapas berdaun 8 β garis keturunan ke-9 dan ke-8 Sultan terdahulu. Perisai dan jantung bertuliskan βAlwatzikhoebillahβ β perlindungan, keturunan, dan prinsip berpegang teguh pada hukum Allah. Mahkota, payung kuning, dan pedang β simbol pengayoman, perlindungan, dan kewibawaan. Tanggal 15 Juli 1933 β hari peringatan pendirian istana baru. Ruang Dalam & Koleksi Kerajaan Di dalam istana, pengunjung dapat menyaksikan berbagai koleksi bersejarah: Cermin Belanda, Hadiah dari perusahaan tambang emas asal Batavia, tanda hubungan diplomatis ekonomi pada masa itu. Koin Undangan, Koin khusus dari Brunei Darussalam sebagai bentuk penghormatan antar kerajaan. Pusaka Kerajaan, Termasuk: - Tombak Canggah hadiah Sultan Brunei - Tombak Emas - Patung Ubur-Ubur - Payung kuning keemasan - Alat upacara - Nafiri beserta pemainnya Pusaka ini menegaskan hubungan erat Kesultanan Sambas dengan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya. Meriam LelaMeriam Lela Sambas adalah meriam produksi lokal dari Kesultanan Sambas yang digunakan sebagai senjata melawan penjajahan Inggris. Selain itu, ada juga benda pusaka bernama "Meriam Beranak" atau "Meriam Lele" yang merupakan peninggalan Ratu Sepudak dari Kerajaan Sambas. Meriam Beranak ini unik karena konon dapat "beranak" atau bertambah banyak dan disimpan di dalam kotak kaca. Istana Alwatzikhoebillah saat ini dikelola oleh keluarga besar Kesultanan Sambas melalui pewaris tahta Istana Alwatzikhoebillah, yakni Pangeran Ratu Muhammad Tarhan Berikut urutan 15 Sultan Sambas dari tahun 1631 hingga 1944: 1. Sultan Muhammad Shafiuddin I (1631β1669) 2. Sultan Muhammad Tajuddin I (1669β1708) 3. Sultan Umar Aqamaddin I (1708β1732) 4. Sultan Abubakar Kamaluddin (1732β1762) 5. Sultan Umar Aqamaddin II (1762β1786 & 1793β1802) 6. Sultan Muhammad Tajuddin II (1786β1793) 7. Sultan Abubakar Tajuddin I (1802β1814) 8. Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I (1815β1828) 9. Sultan Usman Kamaluddin (1828β1830) 10. Sultan Umar Aqamaddin III (1830β1846) 11. Sultan Abubakar Tajuddin II (1846β1855) 12. Sultan Umar Kamaluddin (1855β1866) 13. Sultan Muhammad Shafiuddin II (1866β1922) 14. Sultan Muhammad Ali Shafiuddin II (1922β1926) 15. Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin (1931β1944).
Memuat...
Informasi Praktis
Alamat
Jl. Sultan Muhammad Tsafiuddin II
Lokasi
Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas
Jam Buka
08:00 - 16:00
Estimasi Kunjungan
60 menit
Video
Kontak & Dokumen
Peta Lokasi
Memuat peta...
Koordinat:1.365600, 109.298900
π‘ Tips Berkunjung
- β’ Bawa kamera untuk mengabadikan momen
- β’ Hormati adat dan budaya lokal
- β’ Jaga kebersihan lingkungan
- β’ Dukung UMKM lokal